Siswa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMK Negeri 1, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin (16/3/2020). Pelaksanaan UNBK di Palangkaraya tetap diselenggarakan di tengah pandemi COVID-19 dengan protokol pencegahan sebagai antisipasi penularan COVID-19.Selain keterampilan kognitif, pendidikan di era Society 5.0 harus menekankan pembentukan karakter. Empati, integritas, dan kemampuan kerja sama menjadi nilai-nilai penting dalam masyarakat berbasis teknologi.
Namun, UN, dalam bentuknya yang lama, tidak mampu mengukur aspek-aspek ini. Pendidikan karakter membutuhkan evaluasi lebih kontekstual, yang mengintegrasikan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Mengembalikan UN tanpa reformasi berarti mengabaikan pelajaran dari masa lalu. UN pernah menjadi simbol keseragaman, tetapi ia juga menjadi sumber tekanan psikologis bagi siswa dan guru.
Tekanan ini sering kali mengalihkan perhatian dari esensi pembelajaran, yaitu menumbuhkan rasa ingin tahu dan semangat eksplorasi.
Namun, jika UN dimodifikasi untuk mencerminkan kebutuhan Society 5.0, ia masih bisa berperan. Misalnya, UN dapat diintegrasikan dengan evaluasi berbasis kompetensi dan teknologi.
Dalam format ini, UN tidak lagi menjadi satu-satunya alat evaluasi, tetapi bagian dari sistem yang lebih luas.
Sebagai penutup, Habermas mengingatkan kita bahwa kebijakan yang baik lahir dari proses deliberatif yang inklusif.
Mengembalikan UN seharusnya bukan keputusan sepihak, melainkan hasil dari dialog yang mendalam dan reflektif.
Di era Society 5.0, pendidikan harus dirancang untuk membentuk individu yang siap menghadapi tantangan global, tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Mengembalikan Ujian Nasional? Jawabannya harus ditemukan melalui diskursus yang rasional, melibatkan semua pihak, dan didasarkan pada prinsip keadilan dan relevansi.
Ini adalah ujian bagi keberanian kita untuk berubah, untuk meninggalkan "sayap lilin" dan membangun sistem pendidikan yang lebih kokoh dan adaptif.