Siswa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMK Negeri 1, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin (16/3/2020). Pelaksanaan UNBK di Palangkaraya tetap diselenggarakan di tengah pandemi COVID-19 dengan protokol pencegahan sebagai antisipasi penularan COVID-19.Evaluasi pendidikan harus berubah. UN, jika dipaksakan kembali tanpa reformasi, justru menutup ruang eksplorasi pembelajaran holistik dan mengembalikan pendidikan ke paradigma lama.
Habermas percaya bahwa kebijakan publik yang ideal harus lahir dari konsensus yang dibangun melalui komunikasi rasional.
Dalam konteks ini, kebijakan mengembalikan UN seharusnya didiskusikan secara terbuka dengan mempertimbangkan berbagai argumen dan bukti.
Sebagai contoh, pemerintah dapat mengajukan data tentang manfaat UN dalam meningkatkan standar pendidikan. Sementara pihak lain, seperti guru dan pakar pendidikan, bisa memberikan masukan tentang kelemahan UN dalam mengakomodasi keterampilan abad ke-21.
Deliberasi semacam ini tidak hanya mencari solusi yang paling efisien, tetapi juga membangun legitimasi dan kepercayaan publik terhadap kebijakan tersebut.
Sayangnya, deliberasi publik di Indonesia sering kali terhambat oleh dominasi kekuasaan dan minimnya akses informasi. Diskursus tentang UN harus melampaui sekadar debat teknokratis; ia harus menjadi medium refleksi bersama tentang arah pendidikan kita.
Kisah Icarus dalam mitologi Yunani memberikan analogi yang relevan. Dengan sayap lilin buatan Daedalus, Icarus terbang tinggi, mengejar kebebasan, tetapi akhirnya jatuh karena mendekati matahari.
UN dapat dianalogikan sebagai "sayap lilin" dalam sistem pendidikan kita: terlihat kokoh, tetapi rapuh dalam menghadapi perubahan zaman.
Terlalu mengandalkan UN sebagai satu-satunya alat evaluasi bisa membuat kita mengabaikan kebutuhan pendidikan yang lebih holistik di era Society 5.0.
Seperti Icarus, kita sering tergoda untuk mempertahankan metode yang tampak menjanjikan tanpa mempertimbangkan risiko jangka panjang.