Ilustrasi Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 MaretKOMPAS.com - International Women's Day (IWD) atau Hari Perempuan Internasional diperingati setiap 8 Maret, untuk merayakan pencapaian sosial, ekonomi, budaya, dan politik kaum perempuan.
Hari ini turut menandai tindakan guna mempercepat kesetaraan gender, mendidik dan meningkatkan kesadaran tentang kesetaraan perempuan, hingga menggalang dana bagi badan amal yang berfokus pada perempuan.
Direktur Eksekutif Badan PBB, UN Women, Sima Bahous, mengatakan tema Hari Perempuan Internasional 2026 ialah Hak. Keadilan. Aksi. Untuk semua Perempuan dan Anak Perempuan.
"Selamat Hari Perempuan Internasional 2026. Sebuah hari untuk merayakan setiap suara yang diangkat, setiap hambatan yang dipatahkan, setiap hak yang diperjuangkan oleh perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia," ujar Bahous dalam keterangan resminya, Sabtu (7/3/2026).
Baca juga: Perempuan Hanya Punya 64 Persen Hak Hukum Dibanding Laki-laki
"Kita belum pernah sedekat ini untuk mencapai kesetaraan gender, dan belum pernah sedekat ini pula untuk kehilangan kesetaraan gender tersebut," imbuh dia.
Bahous menyebut, sejauh ini Undang-Undang tentang kekerasan dalam rumah tangga sudah lebih kuat. Jumlah anak perempuan yang bersekolah lebih banyak dari sebelumnya, dan gerakan perempuan lebih terhubung, terlihat, dan lebih penting.
"Namun, ini juga merupakan momen yang penuh kontradiksi. Kekerasan meningkat, termasuk di dunia maya. Hak-hak dilanggar secara langsung," tutur dia.
Selain itu, terjadi impunitas di mana pelaku pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat atau kejahatan serius lolos dari investigasi, penangkapan, penuntutan, maupun hukuman.
Bahous lantas menyerukan agar masyarakat dunia hadir dan menyuarakan hak-hak perempuan agar bisa hidup dengan aman, bebas berbicara, dan setara.
"UN Women dibangun untuk momen ini, dari zona krisis hingga ruang sidang, dari tingkat akar rumput hingga kekuatan global. Kami berdiri bersama perempuan dan anak perempuan ketika hak-hak mereka ditolak, tertundanya keadilan, dan kekerasan diabaikan," kata Bahous.