Riki Ibrahim memaparkan strategi energi Indonesia dalam Dialog Kebijakan UN ESCAP di Kamchatka, Rusia.KAMCHATKA, KOMPAS.com – Indonesia memaparkan strategi percepatan energi terbarukan, khususnya untuk daerah terpencil, dalam Dialog Kebijakan UN ESCAP tentang Pembangunan Energi Berkelanjutan di Kamchatka, Rusia, 5–7 Agustus 2025.
Forum internasional ini dibuka oleh Gubernur Wilayah Kamchatka Vladimiri Solodov bersama Direktur Divisi Energi UN ESCAP Hongpeng Liu dan Direktur Jenderal Energi Rusia Alexey Kulapin. Pertemuan tersebut membahas Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke-7 (SDG 7) yang menargetkan akses energi terjangkau, andal, berkelanjutan, dan modern untuk semua pada 2030.
“Dalam banyak kasus, perluasan infrastruktur melewatkan komunitas-komunitas terpencil karena tantangan geografi, keterbatasan ekonomi, maupun kapasitas kelembagaan,” kata dosen senior program S2 Energi Terbarukan Universitas Darma Persada (UNSADA) Riki Ibrahim, saat melaporkan hasil dialog, dikutip Jumat (8/8/2025).
Baca juga: Pertamina NRE Bangun Energi Terbarukan di 98 Desa, Tekan Emisi Setara 31.000 Pohon
Menurut Riki, meskipun ada kemajuan signifikan di Asia-Pasifik, kesenjangan akses energi masih besar, terutama di pedesaan, pulau, dan daerah pegunungan.
“Lebih dari 50 juta orang di Asia dan Pasifik masih hidup tanpa listrik, dan ratusan juta lainnya mengalami layanan energi yang tidak andal atau berkualitas rendah. Rumah tangga di wilayah terpencil kerap menghadapi biaya tinggi untuk energi dasar,” ujarnya.
Riki menambahkan, sebagian besar partisipan Asia dalam forum ini menuntut kebijakan yang memastikan harga listrik tetap terjangkau. Hal itu dianggap penting untuk mencegah masyarakat terjebak lebih dalam pada middle income trap yang sudah mulai mereka rasakan.
Agenda dialog mencakup tinjauan kemajuan SDG 7, perencanaan iklim dan energi jangka panjang, serta solusi teknis elektrifikasi. Sesi khusus membahas peran energi panas bumi untuk aplikasi off-grid dan keterlibatan pemuda dalam kebijakan energi.
Baca juga: Prabowo Targetkan Indonesia 100 Persen Pakai Energi Terbarukan pada 2030
Hasil pertemuan akan dimasukkan ke dalam rencana kerja Kelompok Kerja Ahli UN ESCAP tentang akses energi modern dan penggunaan bahan bakar fosil yang lebih bersih.
Dalam Sesi 3, Riki memaparkan perkembangan Indonesia dalam memperluas akses listrik. Ia menekankan bahwa pemerintah terus meningkatkan bauran energi berkelanjutan melalui Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru.
Indonesia juga membuka peluang lewat Program REBID dan REBED untuk mempercepat pemanfaatan energi terbarukan dan mengembangkan ekonomi produktif.
Baca juga: Kapasitas Energi Terbarukan China Lampaui Pembangkit Fosil untuk Pertama Kalinya
Pada Sesi 4, Riki menyoroti potensi energi panas bumi. Indonesia saat ini memproduksi sekitar 2.700 MW listrik dari panas bumi dan menargetkan kenaikan kapasitas menjadi 3.500 MW dalam sepuluh tahun ke depan, setara dengan Amerika Serikat.
Ia juga menyampaikan kerja sama Indonesia dengan World Bank melalui Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan dalam program asuransi pengeboran Geothermal Risk Mitigation (GREM), yang telah menarik minat pengembang di Tanah Air.
Riki menambahkan, Rusia menyatakan minat untuk bekerja sama dengan Pertamina, PLN, GeoDipa, dan IPP/swasta dalam proyek pengeboran serta pembangunan pembangkit listrik panas bumi dan hidro. Rusia juga membuka peluang kerja sama pembangunan PLTN tipe modular berkapasitas 100–300 MW, yang disebut memiliki waktu konstruksi relatif cepat.
Baca juga: Pertamina Akuisisi 20 Persen Saham Energi Terbarukan Filipina Senilai Rp 1,88 Triliun